Terabaikan dan Nyaris Punah, Tanaman Pangan lni Lebih Bernutrisi dari Beras

|

i-malut.com, Morotai – Masyarakat Pulau Morotai dulunya sebelum mengenal padi (beras) berkembang luas mereka budidaya tanaman Bobootene atau lebih dikenal pada umumnya dengan nama Jewawut sebagai makanan pokok. Dimana tanaman ini memiliki kandungan nutrisi lebih baik dari padi (beras) baik protein dan kalsium.

Bahkan Jewawut (Bobootene) memiliki antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas, untuk mencegah pembentukan sel kanker. Sayangnya tanaman Bobootene atau Jewawut ini di Kabupaten Pulau Morotai mulai langkah bahkan nyaris punah dan tidak ada upaya budidaya dari Dinas Pertanian.

Media ini coba menelusuri jejak tanaman Bobootene kepada sejumlah petani padi ladang yang dulu sebelumnya menanam Bobootene dalam jumlah yang banyak, saat sebelum mengenal padi.

“Dulunya sebelum mengenal padi orang tua kita menanam Bobootene duluan sebagai makan pokok dan membuat kue waji. Namun, setelah ada padi, tanaman Bobootene mulai ditinggalkan,” ungkap Saban, Petani padi ladang, Desa Daruba, Jumat sore, 1 Nopember 2019

Lanjut manyofo, demikian keseharian Saban disapa, menanam Bobootene tidak sesulit menam padi, hanya perlu menyiapkan lahan dan menaburkan benih. Usia panen 75 hari dan tidak memerlukan perawatan berlebihan.

“Tidak perlu ada irigasi untuk mengalirkan air seperti tanam padi bahkan, tidak pakai pupuk, musim panaspun dia bertumbuh. Padahal biji bobootene sangat kecil, berbentuk bulat dan padat. Secara pengolahan bobootene dan padi sama saja. Membuka kulit bisa tumbuk lesung atau mesin penggiling,” katanya

Selain itu, ujar Saban, bobootene tidak memiliki hama pengganggu, hama satu-satunya yaitu burung. Kalau bulirnya sudah keluar harus dijaga, supaya tidak dimakan burung. karena di beberapa tempat tanaman bobootene menjadi pakan burung dan burung yang suka memakannya adalah burung tekukur.

Ia mengutarakan, masyarakat Morotai saat itu, sebelum mengenal padi. sekitar tahun 1960 sampai 1970-an maka bobootene dan jagung adalah makanan pokok warga.

“Di-zaman dulu, sejak orang tua kami, makanan utama itu bobootene. Jadi di makan seperti nasi atau bubur, dimakan dengan lauk, sayur dan ikan. Selain itu dibuat kue waji paling enak dan bahkan lebih enak dari beras,” kisah Saban, pria 69 tahun ini.

Ketika ditanya kenapa saat ini masyarakat cenderung meninggalkan tanaman bobootene?

Dirinya mengakui setelah masuknya bibit padi membuat masyarakat Morotai saat itu hingga kini mulai meninggalkan tanaman bobootene. Karena beras bibitnya lebih mudah di dapat.

“Namun, bobootene masih kami tanam. Tapi, tidak banyak. Hanya sekedar hasilnya buat kue waji. Karena rasanya lebih nikmat dari beras,” ucapnya

Saban, sambil membandingkan dengan padi, yang harus memiliki pengairan dan unsur hara tanah baik.

“Padahal, lebih sulit menanam padi. Namun, padi tanaman pasar yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan sangat mudah di dapat karena di produksi secara global,” ujarnya

Selain itu, tanaman bobootene ini juga masih di tanam di beberapa desa di Morotai. Sebutlah Desa Sabatai, Sabala, Sambiki, Usbar Dalam, Tiley, Bere-Bere dan lainnya. Tetapi dalam jumlah sangat kecil.

“Disejumlah desa saya yakin masih di tanam walau dalam jumlah kecil. Terutama di desa saya Sabatai. Saya yakin itu karena setiap acara kawinan selalu saja ada kue waji yang terbuat dari tanaman bobootene,” ungkap Bul Loliro.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pulau Morotai, M Rizal, saat di konfirmasi soal alasan kenapa tidak ada budidaya tanaman Jewawut atau Bobootene dari Dinas Pertanian, dirinya menjawab singkat.

“Dinas Pertanian masih prioritas komoditi pangan utama, yakni Padi.” Tegasnya

Perlu di ketahui, Juwawut atau Bobootene (Setaria italica) adalah sejenis tanaman serealia yang pernah dijadikan makanan utama oleh masyarakat asia tenggara dan timur sebelum mengenal padi.

Secara kandungan nutrisi, jewawut (Bobootene) memiliki kadar protein sampai 13%, padi hanya 8%-10%. Jewawut memiliki antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas, untuk mencegah pembentukan sel kanker. Kalsium pun cukup tinggi dibanding padi, sorgum ataupun jagung.

Online User: 0 | Visit: 267 | Visitor: 148

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI

Hanya Ijin Lisan Akibatkan Retak pada Pelencengan Pelabuhan...

Halsel - Akibat diberikan ijin secara lisan, akhirnya tidak ada yang bertanggungjawab atas kerusakan pada pelencengan pelabuhan Ferry Kecamatan Kayoa Utara Kabupaten Halmahera Selatan. Pekan kemarin, pelabuhan penyebrangan Ferry Kec....

Pemdes Dauri Salurkan BLT kepada 101 KK

Halsel - Pemerintah Desa Dauri, Kecamatan Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), pada Sabtu (06/06) pagi tadi, menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada 101 KK. BLT yang disalurkan selama...

Mobil Plat Merah Digunakan Mengangkut Material Proyek

Halsel - Pembangunan Puskesmas Rawat Inap Kec. Kayoa Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) diduga melenceng dari prosedur proyek. Hasil pantauan awak media, Jum'at (05/06), PT. Tugu Utama Sejati selaku rekanan pada...

Pendaftaran Siswa Baru MAN-1 Halsel telah dibuka, ini...

Halsel - Madrasah Aliyah Negeri 1 Halmahera Selatan (MAN-1 Halsel) yang beralamat di Desa Dauri, Kecamatan Pulau Makian, membuka penerimaan Siswa baru tahun ajaran 2020-2021 baik pendaftaran secara Online...

Denpom XVI/1 Ternate Bersama Sintel Korem 152/Babullah Gelar...

Ternate - Detasemen Polisi Militer XVI/1 Ternate bersama Sintel Korem 152/Babullah melaksanakan pemeriksaan kendaraan pribadi milik personel Korem 152/Babullah, Kamis (04/06), bertempat di Makorem 152/Babullah Jl. A. M. Kamarudin...

Bupati HT Hadiri Pembagian BLT Desa Fagudu sebagai...

Sanana - Hari ini sebanyak 150 warga masyarakat terdampak Covid-19 dan berhak sesuai hasil rapat Musyawarah Dusun (musdus) dan Musyawarah Desa (Musdes) Desa Fagudu-Kec. Sanana menerima Bantuan Langsung Tunai...
- Advertisement -

Satlantas Polres Kepsul bagi Sembako Beras kepada Masyarakat...

Sanana - Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Kepulauan Sula (Kepsul) membagikan sembako kepada masyarakat yang terdampak Virus Corona atau Covid-19. Kali ini di fokuskan di Desa Fokalik Kecamatan Sanana...

Pemda Kepsul Bagikan 20 Ton “Mintan” Secara Gratis...

Sanana - Pemerintah kabupaten kepuluan Sula (Kepsul) melalui Dinas Perindustrian Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Disprindagkop dan UKM) mulai melakukan pembagian minyak tanah secara Gratis kepada masyarakat di...

Berikan Ijin Secara Lisan, Dinas Perhubungan Halsel Disoroti

Halsel - Pembokaran bahan/material proyek Pembangunan Puskesmas Rawat Inap Kec. Kayoa, disoroti salah satu Akademisi FKIP Unkhair Ternate. Dr. Nasir S. Tamalene, Akademisi FKIP Unkhair Ternate, menilai bahwa proses pembongkaran...

Artikel Terkait

Terabaikan dan Nyaris Punah, Tanaman Pangan lni Lebih Bernutrisi dari Beras

i-malut.com, Morotai – Masyarakat Pulau Morotai dulunya sebelum mengenal padi (beras) berkembang luas mereka budidaya tanaman Bobootene atau lebih dikenal pada umumnya dengan nama Jewawut sebagai makanan pokok. Dimana tanaman ini memiliki kandungan nutrisi lebih baik dari padi (beras) baik protein dan kalsium.

Bahkan Jewawut (Bobootene) memiliki antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas, untuk mencegah pembentukan sel kanker. Sayangnya tanaman Bobootene atau Jewawut ini di Kabupaten Pulau Morotai mulai langkah bahkan nyaris punah dan tidak ada upaya budidaya dari Dinas Pertanian.

Media ini coba menelusuri jejak tanaman Bobootene kepada sejumlah petani padi ladang yang dulu sebelumnya menanam Bobootene dalam jumlah yang banyak, saat sebelum mengenal padi.

“Dulunya sebelum mengenal padi orang tua kita menanam Bobootene duluan sebagai makan pokok dan membuat kue waji. Namun, setelah ada padi, tanaman Bobootene mulai ditinggalkan,” ungkap Saban, Petani padi ladang, Desa Daruba, Jumat sore, 1 Nopember 2019

Lanjut manyofo, demikian keseharian Saban disapa, menanam Bobootene tidak sesulit menam padi, hanya perlu menyiapkan lahan dan menaburkan benih. Usia panen 75 hari dan tidak memerlukan perawatan berlebihan.

“Tidak perlu ada irigasi untuk mengalirkan air seperti tanam padi bahkan, tidak pakai pupuk, musim panaspun dia bertumbuh. Padahal biji bobootene sangat kecil, berbentuk bulat dan padat. Secara pengolahan bobootene dan padi sama saja. Membuka kulit bisa tumbuk lesung atau mesin penggiling,” katanya

Selain itu, ujar Saban, bobootene tidak memiliki hama pengganggu, hama satu-satunya yaitu burung. Kalau bulirnya sudah keluar harus dijaga, supaya tidak dimakan burung. karena di beberapa tempat tanaman bobootene menjadi pakan burung dan burung yang suka memakannya adalah burung tekukur.

Ia mengutarakan, masyarakat Morotai saat itu, sebelum mengenal padi. sekitar tahun 1960 sampai 1970-an maka bobootene dan jagung adalah makanan pokok warga.

“Di-zaman dulu, sejak orang tua kami, makanan utama itu bobootene. Jadi di makan seperti nasi atau bubur, dimakan dengan lauk, sayur dan ikan. Selain itu dibuat kue waji paling enak dan bahkan lebih enak dari beras,” kisah Saban, pria 69 tahun ini.

Ketika ditanya kenapa saat ini masyarakat cenderung meninggalkan tanaman bobootene?

Dirinya mengakui setelah masuknya bibit padi membuat masyarakat Morotai saat itu hingga kini mulai meninggalkan tanaman bobootene. Karena beras bibitnya lebih mudah di dapat.

“Namun, bobootene masih kami tanam. Tapi, tidak banyak. Hanya sekedar hasilnya buat kue waji. Karena rasanya lebih nikmat dari beras,” ucapnya

Saban, sambil membandingkan dengan padi, yang harus memiliki pengairan dan unsur hara tanah baik.

“Padahal, lebih sulit menanam padi. Namun, padi tanaman pasar yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan sangat mudah di dapat karena di produksi secara global,” ujarnya

Selain itu, tanaman bobootene ini juga masih di tanam di beberapa desa di Morotai. Sebutlah Desa Sabatai, Sabala, Sambiki, Usbar Dalam, Tiley, Bere-Bere dan lainnya. Tetapi dalam jumlah sangat kecil.

“Disejumlah desa saya yakin masih di tanam walau dalam jumlah kecil. Terutama di desa saya Sabatai. Saya yakin itu karena setiap acara kawinan selalu saja ada kue waji yang terbuat dari tanaman bobootene,” ungkap Bul Loliro.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pulau Morotai, M Rizal, saat di konfirmasi soal alasan kenapa tidak ada budidaya tanaman Jewawut atau Bobootene dari Dinas Pertanian, dirinya menjawab singkat.

“Dinas Pertanian masih prioritas komoditi pangan utama, yakni Padi.” Tegasnya

Perlu di ketahui, Juwawut atau Bobootene (Setaria italica) adalah sejenis tanaman serealia yang pernah dijadikan makanan utama oleh masyarakat asia tenggara dan timur sebelum mengenal padi.

Secara kandungan nutrisi, jewawut (Bobootene) memiliki kadar protein sampai 13%, padi hanya 8%-10%. Jewawut memiliki antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas, untuk mencegah pembentukan sel kanker. Kalsium pun cukup tinggi dibanding padi, sorgum ataupun jagung.

Online User: 0  |  Visit: 267  |  Visitor: 148

BERITA LAINNYA

Mobil Plat Merah Digunakan Mengangkut Material Proyek

Halsel - Pembangunan Puskesmas Rawat Inap Kec. Kayoa Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) diduga melenceng dari...

Pelencengan Pelabuhan Ferry Kayoa Utara Retak Akibat Benturan Lamdor Kapal Landen

Halsel - Akibat benturan lamdor kapal landen mengakibatkan kerusakan pada pelencengan pelabuhan Ferry Kec. Kayoa...

Satlantas Polres Kepsul bagi Sembako Beras kepada Masyarakat Terdampak Covid-19

Sanana - Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Kepulauan Sula (Kepsul) membagikan sembako kepada masyarakat yang...

POPULER

Masyarakat Lede Unjuk Rasa di Depan Pos Satgas, Ini Tuntutannya

i-malut.com, Taliabu - Masyarakat Tiga Desa Kecamatan Lede, Yakni Desa Lede, Langganu dan Desa Balohang, pagi tadi, Kamis 7...

Ruslan Buton, Sosok Patriotisme, Nasionalisme...

Adalah Kapten Inf. Ruslan Buton, pria kelahiran Buton Tanggal 4 Juli 1975 ini dikenal memiliki jiwa patriotisme dengan semangat...

Berikan Ijin Secara Lisan, Dinas...

Halsel - Pembokaran bahan/material proyek Pembangunan Puskesmas Rawat Inap Kec. Kayoa, disoroti salah satu Akademisi FKIP Unkhair Ternate. Dr. Nasir...

Pelencengan Pelabuhan Ferry Kayoa Utara...

Halsel - Akibat benturan lamdor kapal landen mengakibatkan kerusakan pada pelencengan pelabuhan Ferry Kec. Kayoa Utara. Hasil pantauan awak media,...

Peduli Covid-19, PT. ADT Salurkan...

PT. Adidaya Tangguh perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah Kabupaten Pulau Taliabu terus menunjukan rasa simpatik dan peduli atas...

Gustu Malut Berikan Pelatihan Protokol...

Ternate - Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Maluku Utara (Malut) memberikan pelatihan dan sosialisasi pemakaman jenazah sesuai protokol...