TERPOPULER

Bupati Halsel Dianggap Remehkan Surat Edaran Mendagri

Labuha — Bupati Halmahera Selatan (Halsel), Bahrain Kasuba dianggap telah meremehkan edaran Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Jenderal Polisi (Purn.)...

Senin Besok, Polda Malut bersama Tim Penanggulangan...

Ternate -- Tim gabungan penanggulangan pandemic Covid-19 Provinsi Maluku Utara akan melaksanakan penyemprotan masal di Kota Ternate, guna menangkal...

Ketum HPMWB Tegaskan PT. STS Jangan Main-main...

Maba -- Ketua Umum Himpunan Pelajar Mahasiswa Wilayah Buli (HPMWB) sebut perusahaan tambang PT. STS yang beroperasi di wilayah...

Terkait Aksi Protes dan Pemalangan Kantor BP2RD...

Ternate - Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Kota Ternate, Ahmad Yani Abdurahman menanggapi aksi protes dan...

Dalam Waktu Dekat, PD SPSI Akan Bentuk...

Ternate — Pengurus Pimpinan Daerah Federasi Serikat Kimia, Energi dan Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PD FSP KEP SPSI)...

Usulan PAW Anggota DPRD Kota Ternate dari Partai...

Ternate -- Pengajuan Pergantian Antar Waktu (PAW) terhadap dua orang anggota DPRD Kota Ternate dari partai Berkarya, telah dibahas...

Bupati Halsel Dianggap Remehkan Surat Edaran Mendagri

Labuha — Bupati Halmahera Selatan (Halsel), Bahrain Kasuba dianggap telah meremehkan edaran Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Jenderal Polisi (Purn.)...

Senin Besok, Polda Malut bersama Tim Penanggulangan...

Ternate -- Tim gabungan penanggulangan pandemic Covid-19 Provinsi Maluku Utara akan melaksanakan penyemprotan masal di Kota Ternate, guna menangkal...

Ketum HPMWB Tegaskan PT. STS Jangan Main-main...

Maba -- Ketua Umum Himpunan Pelajar Mahasiswa Wilayah Buli (HPMWB) sebut perusahaan tambang PT. STS yang beroperasi di wilayah...

Terkait Aksi Protes dan Pemalangan Kantor BP2RD...

Ternate - Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Kota Ternate, Ahmad Yani Abdurahman menanggapi aksi protes dan...

Dalam Waktu Dekat, PD SPSI Akan Bentuk...

Ternate — Pengurus Pimpinan Daerah Federasi Serikat Kimia, Energi dan Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PD FSP KEP SPSI)...

ARTIKEL TERKAIT

Meski Bantuan Itu Cuma Pisang, Pengungsi : Shabdkosh…

|

Sekitar 45 menit setelah tiba di Hotel Coastal Peace di Cox’s Bazar usai mengudara selama 55 menit dari Dhaka, Kamis (29/9) siang, yang berkabut tebal, tim kemanusiaan Indonesia yang akan mendistribusikan bantuan bagi kamp pengungsi Rohingya di Ukhia, sekitar 50 km arah selatan Cox’s Bazar. Adalah Eson Ibnu Sam dari lembaga kemanusiaan PKPU Human Initiative yang menginformasikan soal ini.

“Biasanya tim kemanusiaan kita pergi pagi-pagi ke kamp pengungsi. Akan tetapi, hari ini teman-teman dari Rumah Zakat akan ke (kamp pengungsian) Ukhia untuk menyalurkan bantuan,” kata Eson.

PKPU Human Initiative dan Rumah Zakat adalah di antara dari beberapa lembaga bantuan kemanusiaan Indonesia yang tergabung dalam Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM).

Setengah jam sejak perbincangan dengan Eson itu, Nurmansyah dari Special Program & Crisis Centre Rumah Zakat memberi tahu untuk segera bersiap ke Ukhia. Pada Kamis (28/9), mereka menyalurkan bantuan yang salah satu dananya berasal dari “Bobotoh” atau kelompok pendukung tim sepak bola asal Kota Bandung, Persib.

Di bawah guyuran hujan deras sepanjang perjalanan 32,8 km dari Cox’s Bazar ke kamp pengungsian Ukhiya Upazila, jeep Toyota Land Rover “jadul” yang sudah dimodifikasi menyerupai kendaraan angkutan barang yang tak berjendela membawa kami ke Ukhia.

Sebagaimana hari-hari sebelum ini, Rumah Zajat dikawani oleh staf lokal yang bertindak juga sebagai penerjemah. Namanya Aiman Ul Alam, pemuda Bangladesh berusia 23 tahun yang menguasai empat bahasa, termasuk bahasa Inggris dan Bengali-Rohingya.

Sama seperti di Dhaka, pengendara di sini pun tidak mau kalah untuk ugal-ugalan, padahal jalan di sini sesempit jalan kabupaten di Indonesia. “Selama saya di sini tak pernah hujan sederas dan selama ini,” kata Agus Suryadi, yang seperti Nurmansyah juga berasal dari Rumah Zakat.

Hujan perlahan mereda begitu mencapai titik utama penyaluran bantuan, agak jauh ke selatan Ukhia. Sebelum mencapai kamp pengungsian, sepanjang kiri kanan jalan yang hanya bisa dilalui dua kendaraan itu, para pengungsi yang kebanyakan anak-anak dan wanita berjongkok atau berdiri manahan lapar untuk menjemput langsung bantuan sebelum para pemberi bantuan sampai di kamp mereka.

Tanpa alas kaki, menginjak tanah berlumpur nan kotor di tepi jalan, mereka mengangkat tangan mereka. Tatapan mereka kosong. Letih tergambar dari wajah mereka. Sudah tentu dengan menahan lapar yang teramat sangat. “Shabdkosh” atau lapar adalah memang kata umum yang mereka ucapkan begitu didekati sukarelawan mana saja, termasuk dari Indonesia.

Untuk anak-anak Rohingya

Bantuan memang terus berdatangan ke sini, nyaris tanpa jeda. Akan tetapi, terlalu banyak mulut yang mesti dipuaskan. Hal itu belum termasuk mereka yang mengeluh karena berbagai penyakit. Belum lagi sistem distribusi dan koordinasi bantuan dari pemerintah Bangladesh yang dikeluhkan oleh berbagai tim kemanusiaan, baik Indonesia maupun negara lain, bahkan oleh badan-badan kemanusiaan dunia.

“Ada yang menyebut jumlah pengungsi sudah mencapai satu juta. Tak ada yang bisa memverifikasi jumlah pastinya. Akan tetapi, yang jelas minimal ada 700 ribu orang pengungsi,” kata Eson sebelum tim pergi ke Ukhia.

Biasanya menyalurkan bantuan konsumsi yang sudah disusun dalam paket-paket yang dibeli di Cox’s Bazar karena umumnya tim bantuan kemanusiaan Indonesia hanya membawa uang untuk disalurkan dalam bentuk barang di kamp pengungsi Rohingya di wilayah Bangladesh, kali ini tim yang mengantarkan bantuan di Ukhia akan mengantarkan pisang.

Meski cuma pisang, wajah-wajah lapar yang banyak di antaranya menyimpan pengalaman traumatis dalam hidupnya, sudah bersiap berburu mendapatkan bagian bantuan. Awalnya dibuat serapi mungkin, kemudian pisang-pisang itu dibagikan dalam kondisi yang agak kacau karena para pengungsi yang umumnya menempuh berhari-hari untuk sampai ke Bangladesh melintasi perbatasan Myanmar-Bangladesh yang seram itu sudah tidak bisa lagi sabar menunggu antrean untuk bantuan apa pun yang diberikan tim-tim kemanusiaan.

“Biasanya sebelum menyalurkan bantuan, kami berembuk terlebih dahulu dengan orang yang dituakan atau tentara. Akan tetapi, kali ini keduanya tidak ada. Akhirnya, penyaluran bantuan pun menjadi tidak merata,” kata Herlan Wirlandari, Direktur Relawan Rumah Zakat.

Rumah Zakat tidak jera dengan pengalaman yang kurang memuaskan itu. Pada hari ini, seperti lembaga bantuan kemanusiaan lainnya, baik dari sesama Indonesia, luar negeri lainnya, maupun dari Bangladesh sendiri, mereka akan kembali menyalurkan bantuan.

Sudah triliunan rupiah mengalir ke Bangladesh dari seantero jagat. Akan tetapi, tampaknya itu belum pernah bisa disebut cukup untuk membantu ratusan ribu pengungsi dari Rakhine, Myanmar itu.

Di antara yang menjadi keprihatian dunia adalah ratusan ribu anak yang banyak di antaranya sudah tak beribu atau berayah, atau bahkan tanpa keduanya. Badan PBB untuk pendidikan dan anak-anak, UNICEF, bahkan menyebutkan 60 persen pengungsi baru yang terus mengalir dari Myanmar ke Bangladesh adalah anak-anak.

Bahkan, jauh sebelum eksodus pengungsi sebagai dampak dari operasi militer Myanmar pascaserangan pemberontak Arakan ke pos-pos polisi Myanmar pada tanggal 24 Agustus silam itu, ratusan ribu pengungsi Rohingya lainnya sebelum mereka sudah tertahan di wilayah Bangladesh selama bertahun-tahun tanpa tahu kapan bisa kembali ke tanah kelahirannya di Rakhine.

Sumber : Antara

Iklan Video

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Usulan PAW Anggota DPRD Kota Ternate dari Partai Berkarya Belum Memenuhi Ketentuan, Ini Penjelasan Ketua BANMUS

Ternate -- Pengajuan Pergantian Antar Waktu (PAW) terhadap dua orang anggota DPRD Kota Ternate dari...

BPBD Halsel Akui Bangun Huntap Tanpa Analisa Standar Pengukuran

Labuha -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), mengakui kegiatan pembangunan 1.200 Hunian...

P2A Kota Ternate Mencatat Sebanyak 15 Kasus Sepanjang Tahun 2020

Ternate — Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2A) Kota Ternate mencatat sebanyak 15 Kasus sepanjang...

Meski Bantuan Itu Cuma Pisang, Pengungsi : Shabdkosh…

Sekitar 45 menit setelah tiba di Hotel Coastal Peace di Cox’s Bazar usai mengudara selama 55 menit dari Dhaka, Kamis (29/9) siang, yang berkabut tebal, tim kemanusiaan Indonesia yang akan mendistribusikan bantuan bagi kamp pengungsi Rohingya di Ukhia, sekitar 50 km arah selatan Cox’s Bazar. Adalah Eson Ibnu Sam dari lembaga kemanusiaan PKPU Human Initiative yang menginformasikan soal ini.

“Biasanya tim kemanusiaan kita pergi pagi-pagi ke kamp pengungsi. Akan tetapi, hari ini teman-teman dari Rumah Zakat akan ke (kamp pengungsian) Ukhia untuk menyalurkan bantuan,” kata Eson.

PKPU Human Initiative dan Rumah Zakat adalah di antara dari beberapa lembaga bantuan kemanusiaan Indonesia yang tergabung dalam Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM).

Setengah jam sejak perbincangan dengan Eson itu, Nurmansyah dari Special Program & Crisis Centre Rumah Zakat memberi tahu untuk segera bersiap ke Ukhia. Pada Kamis (28/9), mereka menyalurkan bantuan yang salah satu dananya berasal dari “Bobotoh” atau kelompok pendukung tim sepak bola asal Kota Bandung, Persib.

Di bawah guyuran hujan deras sepanjang perjalanan 32,8 km dari Cox’s Bazar ke kamp pengungsian Ukhiya Upazila, jeep Toyota Land Rover “jadul” yang sudah dimodifikasi menyerupai kendaraan angkutan barang yang tak berjendela membawa kami ke Ukhia.

Sebagaimana hari-hari sebelum ini, Rumah Zajat dikawani oleh staf lokal yang bertindak juga sebagai penerjemah. Namanya Aiman Ul Alam, pemuda Bangladesh berusia 23 tahun yang menguasai empat bahasa, termasuk bahasa Inggris dan Bengali-Rohingya.

Sama seperti di Dhaka, pengendara di sini pun tidak mau kalah untuk ugal-ugalan, padahal jalan di sini sesempit jalan kabupaten di Indonesia. “Selama saya di sini tak pernah hujan sederas dan selama ini,” kata Agus Suryadi, yang seperti Nurmansyah juga berasal dari Rumah Zakat.

Hujan perlahan mereda begitu mencapai titik utama penyaluran bantuan, agak jauh ke selatan Ukhia. Sebelum mencapai kamp pengungsian, sepanjang kiri kanan jalan yang hanya bisa dilalui dua kendaraan itu, para pengungsi yang kebanyakan anak-anak dan wanita berjongkok atau berdiri manahan lapar untuk menjemput langsung bantuan sebelum para pemberi bantuan sampai di kamp mereka.

Tanpa alas kaki, menginjak tanah berlumpur nan kotor di tepi jalan, mereka mengangkat tangan mereka. Tatapan mereka kosong. Letih tergambar dari wajah mereka. Sudah tentu dengan menahan lapar yang teramat sangat. “Shabdkosh” atau lapar adalah memang kata umum yang mereka ucapkan begitu didekati sukarelawan mana saja, termasuk dari Indonesia.

Untuk anak-anak Rohingya

Bantuan memang terus berdatangan ke sini, nyaris tanpa jeda. Akan tetapi, terlalu banyak mulut yang mesti dipuaskan. Hal itu belum termasuk mereka yang mengeluh karena berbagai penyakit. Belum lagi sistem distribusi dan koordinasi bantuan dari pemerintah Bangladesh yang dikeluhkan oleh berbagai tim kemanusiaan, baik Indonesia maupun negara lain, bahkan oleh badan-badan kemanusiaan dunia.

“Ada yang menyebut jumlah pengungsi sudah mencapai satu juta. Tak ada yang bisa memverifikasi jumlah pastinya. Akan tetapi, yang jelas minimal ada 700 ribu orang pengungsi,” kata Eson sebelum tim pergi ke Ukhia.

Biasanya menyalurkan bantuan konsumsi yang sudah disusun dalam paket-paket yang dibeli di Cox’s Bazar karena umumnya tim bantuan kemanusiaan Indonesia hanya membawa uang untuk disalurkan dalam bentuk barang di kamp pengungsi Rohingya di wilayah Bangladesh, kali ini tim yang mengantarkan bantuan di Ukhia akan mengantarkan pisang.

Meski cuma pisang, wajah-wajah lapar yang banyak di antaranya menyimpan pengalaman traumatis dalam hidupnya, sudah bersiap berburu mendapatkan bagian bantuan. Awalnya dibuat serapi mungkin, kemudian pisang-pisang itu dibagikan dalam kondisi yang agak kacau karena para pengungsi yang umumnya menempuh berhari-hari untuk sampai ke Bangladesh melintasi perbatasan Myanmar-Bangladesh yang seram itu sudah tidak bisa lagi sabar menunggu antrean untuk bantuan apa pun yang diberikan tim-tim kemanusiaan.

“Biasanya sebelum menyalurkan bantuan, kami berembuk terlebih dahulu dengan orang yang dituakan atau tentara. Akan tetapi, kali ini keduanya tidak ada. Akhirnya, penyaluran bantuan pun menjadi tidak merata,” kata Herlan Wirlandari, Direktur Relawan Rumah Zakat.

Rumah Zakat tidak jera dengan pengalaman yang kurang memuaskan itu. Pada hari ini, seperti lembaga bantuan kemanusiaan lainnya, baik dari sesama Indonesia, luar negeri lainnya, maupun dari Bangladesh sendiri, mereka akan kembali menyalurkan bantuan.

Sudah triliunan rupiah mengalir ke Bangladesh dari seantero jagat. Akan tetapi, tampaknya itu belum pernah bisa disebut cukup untuk membantu ratusan ribu pengungsi dari Rakhine, Myanmar itu.

Di antara yang menjadi keprihatian dunia adalah ratusan ribu anak yang banyak di antaranya sudah tak beribu atau berayah, atau bahkan tanpa keduanya. Badan PBB untuk pendidikan dan anak-anak, UNICEF, bahkan menyebutkan 60 persen pengungsi baru yang terus mengalir dari Myanmar ke Bangladesh adalah anak-anak.

Bahkan, jauh sebelum eksodus pengungsi sebagai dampak dari operasi militer Myanmar pascaserangan pemberontak Arakan ke pos-pos polisi Myanmar pada tanggal 24 Agustus silam itu, ratusan ribu pengungsi Rohingya lainnya sebelum mereka sudah tertahan di wilayah Bangladesh selama bertahun-tahun tanpa tahu kapan bisa kembali ke tanah kelahirannya di Rakhine.

Sumber : Antara

VIDEO

IKLAN

i-malut.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

 

ARTIKEL TERKAIT

BACA JUGA

FKPA-MU Gelar Aksi Peduli Kemanusiaan dan Kampanye Lingkungan

Ternate -- Forum Komunikasi Pecinta Alam Maluku Utara (FKPA-MU) gelar Aksi Galang Dana Peduli Kemanusiaan untuk masyarakat Halmahera Utara (Halut) yang tertimpa musibah banjir beberapa waktu lalu. Dalam waktu...

Ketua DPD Partai Beringin Karya Kota Ternate Minta...

Ternate -- Pengajuan Pergantian Antar Waktu (PAW) dua orang anggota DPRD Kota Ternate dari Partai Berkarya, berbuntut pengembalian kewenangan dari BANMUS DPRD Kota Ternate ke internal Partai. Ketua DPD Partai...

Dirut RSUD Chasan Boesoirie Sebut Banyak Masyarakat yang...

Ternate -- Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Chasan Boesoirie, dr. Syamsul Bahri menanggapi soal isu yang berkembang dan Asumsi negatif masyarakat terkait  Vaksinasi. Menurutnya, bicara soal vaksinasi itu sudah...

P2A Kota Ternate Mencatat Sebanyak 15 Kasus Sepanjang...

Ternate — Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2A) Kota Ternate mencatat sebanyak 15 Kasus sepanjang Tahun 2020, diantaranya Kasus Penelantaraan Anak, Kekerasan Terhadap Anak, Hak Asuh Anak, Pencabulan, dan...

Inspektorat Taliabu Belum Teruskan Hasil Audit ADD dan...

Taliabu - Penaganan Kasus Audit ADD dan DD Desa Loseng Kecamatan Taliabu Timur selatan kabupaten Pulau Taliabu hingga kini belum juga diserahkan oleh pihak inspektorat ke Polres Kepulauan Sula. Berdasarkan...

Kuasa Hukum Usman-Bassam Siap Hadapi Gugatan Helmi-Ode di...

Labuha — Kuasa Hukum Usman-Bassam bersama Kantor Hukum AWK dan Partners menyatakan siap menghadapi gugatan dari Paslon Helmi-Ode dalam sidang gugatan, di Mahkamah Konstitusi (MK) yang bakal mulai digelar,...

Antisipasi Bencana Alam, Kadis BPBD Halteng Himbau Masyarakat...

Weda --  Mencermati terkait bencana alam yang menimpa dibeberapa Propinsi di indonesia beberapa waktu lalu telah, Dinas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng) menghimbau kepada Masyarakat Agar...

Komisi III DPR Setujui Listyo Sigit Prabowo Sebagai...

Jakarta -- Ketua Komisi III DPR RI, Herman Herry menyampaikan bahwa setelah melakukan uji kelayakan atau fit and proper test, serta mendengarkan pendapat akhir dari semua fraksi-fraksi komisi bidang...

Pekan Depan Wiratama Mewisudakan Mahasiswa Dua Prodi

Ternate - Pekan depan pihak yayasan Wiratama Ternate, gelar wisuda untuk dua Prodi yang sempat tertunda beberapa kali jadwal wisudanya. Dua Prodi tersebut yakni Prodi Menejmen informatika dan Komputer...
error: