TERPOPULER

Dr. Muh. Nasir S. Tamalene : IKA...

Ternate -- Universitas Nahdatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) bakal segera hadir di Provinsi Maluku Utara. Kampus tersebut akan hadir...

HMI Cabang Ternate Minta PT. NHM Hentikan...

Ternate -- Covid-19 saat ini menjadi momok yang sangat menakutkan bagi masyarakat. Hal itulah yang membuat Pemerintah hadir dengan...

MAN I Halsel Buka Pendaftaran Guru Honorer,...

Halsel -- Madrasah Aliyah Negeri I Halmahera Selatan (MAN I HAL-SEL) membuka lowongan bagi tenaga pendidik baru (Guru Honorer)...

Amar Manaf : 2021 Sebagai Tahun Penguatan...

Sofifi -- Sebanyak 68 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara menerima SK PCPNS di Aula...

Hari Ini, LLDIKTI Wilayah XII Lakukan Visitasi...

Ternate -- Hari Ini Sabtu (23/01), Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XII, lakukan Visitasi Lokasi Perencanaan Pembangunan Kampus...

Peduli Kemanusiaan, EW-LMND Malut Distribusikan Bantuan di...

Ternate -- Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW-LMND) Maluku Utara, distribusikan bantuan terhadap Masyarakat yang terdampak Bencana...

Dr. Muh. Nasir S. Tamalene : IKA...

Ternate -- Universitas Nahdatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) bakal segera hadir di Provinsi Maluku Utara. Kampus tersebut akan hadir...

HMI Cabang Ternate Minta PT. NHM Hentikan...

Ternate -- Covid-19 saat ini menjadi momok yang sangat menakutkan bagi masyarakat. Hal itulah yang membuat Pemerintah hadir dengan...

MAN I Halsel Buka Pendaftaran Guru Honorer,...

Halsel -- Madrasah Aliyah Negeri I Halmahera Selatan (MAN I HAL-SEL) membuka lowongan bagi tenaga pendidik baru (Guru Honorer)...

Amar Manaf : 2021 Sebagai Tahun Penguatan...

Sofifi -- Sebanyak 68 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara menerima SK PCPNS di Aula...

Hari Ini, LLDIKTI Wilayah XII Lakukan Visitasi...

Ternate -- Hari Ini Sabtu (23/01), Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XII, lakukan Visitasi Lokasi Perencanaan Pembangunan Kampus...

ARTIKEL TERKAIT

Digitalisasi Disebut Bikin 56 Persen Orang Hilang Pekerjaan

|

i-malut.com, JAKARTA — Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengatakan perkembangan teknologi dan digitalisasi akan membuat sekitar 56 persen pekerja di dunia kehilangan pekerjaan dalam 10-20 tahun ke depan.

Meski demikian, penciptaan lapangan kerja tetap akan terjadi, sehingga menutup risiko ‘punahnya’ beberapa jenis pekerjaan, misalnya pengantar pos.

Dikutip pada laman cnnindonesia.com, Selasa (20/11/2018), Hanif bilang, angka tersebut didapatnya merujuk pada proyeksi dari Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization/ILO) yang diterbitkan belum lama ini.

“Prediksi ILO sekitar 56 persen, meski penciptaan lapangan kerja tetap akan besar juga. Tapi penciptaannya belum dihitung berapa,” ujar Hanif di kantornya, Senin (19/11).

Lebih lanjut, Hanif bilang sektor industri yang akan lebih dulu dihantam oleh digitalisasi, yaitu perbankan, ritel, dan logistik. Namun, tekanan tersebut dipastikan akan terjadi secara bertahap, sehingga tidak serta merta terjadi bersamaan dan menimbulkan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara massal.

Terkait risiko ini, ia mengatakan pemerintah sejatinya sudah memiliki solusi, yaitu membuat pemetaan atas pekerjaan yang rentan hilang dan yang bisa diciptakan ke depan. Hal ini dilakukan dengan turut mengembangkan metode pengembangan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia. Program itu, katanya, sudah dibuat sejak era Kabinet Kerja dimulai hingga berakhir pada 2019 mendatang.

“Kami namanya man power planning, kami petakan perubahan pasar tenaga kerja di masa depan,” imbuhnya.

Namun, ia enggan memaparkan lebih rinci terkait program ini, sekaligus proyeksi penyusutan serapan tenaga kerja yang pada akhirnya bisa teralihkan ke sektor kerja baru di Tanah Air.

Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Rhenald Khasali menambahkan setidaknya ada beberapa sektor yang paling rentan tergerus digitalisasi, yaitu keuangan, media cetak hingga perhotelan. Meski tak memiliki angka pasti mengenai proyeksi penurunan kesempatan kerja di masing-masing sektor, namun ia memastikan hal itu sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini.

Misalnya, pada sektor industri keuangan, beberapa bank sudah tidak lagi membuka kantor cabang dan menambah pegawais dalam jumlah besar. Namun, ia bilang, hal ini tak serta merta membuat PHK di sektor keuangan sudah marak terjadi.

“Sekarang belum sepenuhnya bank kurangi pekerja, tapi setidaknya mereka tidak ekspansi juga. Tidak buka kantor cabang baru,” ucapnya pada kesempatan yang sama.

Sementara itu, sektor media cetak, hal ini tercermin dari sudah mulai bergugurannya media cetak di Tanah Air, khususnya surat kabar yang kemudian digantikan oleh media dalam jaringan (online).

Sektor perhotelan juga perlahan akan tergerus jumlah pekerjanya karena perkembangan teknologi dan perubahan pasar membuat orang lebih senang memanfaatkan penyewaan kondominium dan kamar kos untuk menginap, misalnya dengan aplikasi AirBnB.

Industri Baru Siap Jadi Pengganti

Meski tenaga kerja di beberapa sektor industri rentan tergantikan oleh digitalisasi, namun Rhenald bilang, sejatinya akan selalu ada bidang-bidang pekerjaan baru yang siap menjadi pengganti industri lama untuk menyerap tenaga kerja. Hal ini, katanya, sudah jadi hukum alam dari perputaran roda ekonomi, meski belum bisa diprediksi apakah kemampuan serapan dari industri baru mampu menampung semua ‘buangan’ dari industri lama.

Misalnya, di sektor keuangan, bank mungkin akan mengurangi jumlah tenaga kerjanya, tapi kehadiran perusahaan teknologi berbasis keuangan (financial technology/fintech) bisa menggantikan.

“Dalam jangka pendek, fintech akan naik, sampai fintech optimal, maka lapangan kerja di bank akan mulai berkurang. Bayangkan, misal ada 200 fintech, masing-masing butuh 30 orang, sudah serap 6.000 pekerja,” terangnya.

Selain akan muncul industri baru yang jadi alternatif untuk sektor yang sama, Rhenald bilang, industri informal menjadi salah satu jalan keluar bagi tergerusnya kesempatan kerja oleh digitalisasi. Misalnya, usaha-usaha yang memanfaatkan layanan antar atau delivery melalui aplikasi online. Syaratnya, sambung Rhenald, para pekerja yang mau menjajal pekerjaan baru ini harus akrab dengan teknologi dan digitalisasi itu.

“Nanti akan banyak restoran yang bisa dibikin di rumah, diantarnya pakai Go-Food (layanan pesan antar dari Go-Jek Indonesia),” pungkasnya.

Iklan Video

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Hari Ini, LLDIKTI Wilayah XII Lakukan Visitasi Kampus UNUTARA

Ternate -- Hari Ini Sabtu (23/01), Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XII, lakukan Visitasi...

Tahun 2022, DPRD Kota Ternate Akan Maksimalkan Anggaran Koperasi dan UKM

Ternate -- Komisi II DPRD Kota Ternate akan mengusulkan kepada Pemerintah Kota Ternate agar selain...

HMI Cabang Ternate Minta PT. NHM Hentikan Karantina Karyawan di Kota Ternate

Ternate -- Covid-19 saat ini menjadi momok yang sangat menakutkan bagi masyarakat. Hal itulah yang...

Digitalisasi Disebut Bikin 56 Persen Orang Hilang Pekerjaan

i-malut.com, JAKARTA — Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengatakan perkembangan teknologi dan digitalisasi akan membuat sekitar 56 persen pekerja di dunia kehilangan pekerjaan dalam 10-20 tahun ke depan.

Meski demikian, penciptaan lapangan kerja tetap akan terjadi, sehingga menutup risiko ‘punahnya’ beberapa jenis pekerjaan, misalnya pengantar pos.

Dikutip pada laman cnnindonesia.com, Selasa (20/11/2018), Hanif bilang, angka tersebut didapatnya merujuk pada proyeksi dari Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization/ILO) yang diterbitkan belum lama ini.

“Prediksi ILO sekitar 56 persen, meski penciptaan lapangan kerja tetap akan besar juga. Tapi penciptaannya belum dihitung berapa,” ujar Hanif di kantornya, Senin (19/11).

Lebih lanjut, Hanif bilang sektor industri yang akan lebih dulu dihantam oleh digitalisasi, yaitu perbankan, ritel, dan logistik. Namun, tekanan tersebut dipastikan akan terjadi secara bertahap, sehingga tidak serta merta terjadi bersamaan dan menimbulkan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara massal.

Terkait risiko ini, ia mengatakan pemerintah sejatinya sudah memiliki solusi, yaitu membuat pemetaan atas pekerjaan yang rentan hilang dan yang bisa diciptakan ke depan. Hal ini dilakukan dengan turut mengembangkan metode pengembangan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia. Program itu, katanya, sudah dibuat sejak era Kabinet Kerja dimulai hingga berakhir pada 2019 mendatang.

“Kami namanya man power planning, kami petakan perubahan pasar tenaga kerja di masa depan,” imbuhnya.

Namun, ia enggan memaparkan lebih rinci terkait program ini, sekaligus proyeksi penyusutan serapan tenaga kerja yang pada akhirnya bisa teralihkan ke sektor kerja baru di Tanah Air.

Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Rhenald Khasali menambahkan setidaknya ada beberapa sektor yang paling rentan tergerus digitalisasi, yaitu keuangan, media cetak hingga perhotelan. Meski tak memiliki angka pasti mengenai proyeksi penurunan kesempatan kerja di masing-masing sektor, namun ia memastikan hal itu sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini.

Misalnya, pada sektor industri keuangan, beberapa bank sudah tidak lagi membuka kantor cabang dan menambah pegawais dalam jumlah besar. Namun, ia bilang, hal ini tak serta merta membuat PHK di sektor keuangan sudah marak terjadi.

“Sekarang belum sepenuhnya bank kurangi pekerja, tapi setidaknya mereka tidak ekspansi juga. Tidak buka kantor cabang baru,” ucapnya pada kesempatan yang sama.

Sementara itu, sektor media cetak, hal ini tercermin dari sudah mulai bergugurannya media cetak di Tanah Air, khususnya surat kabar yang kemudian digantikan oleh media dalam jaringan (online).

Sektor perhotelan juga perlahan akan tergerus jumlah pekerjanya karena perkembangan teknologi dan perubahan pasar membuat orang lebih senang memanfaatkan penyewaan kondominium dan kamar kos untuk menginap, misalnya dengan aplikasi AirBnB.

Industri Baru Siap Jadi Pengganti

Meski tenaga kerja di beberapa sektor industri rentan tergantikan oleh digitalisasi, namun Rhenald bilang, sejatinya akan selalu ada bidang-bidang pekerjaan baru yang siap menjadi pengganti industri lama untuk menyerap tenaga kerja. Hal ini, katanya, sudah jadi hukum alam dari perputaran roda ekonomi, meski belum bisa diprediksi apakah kemampuan serapan dari industri baru mampu menampung semua ‘buangan’ dari industri lama.

Misalnya, di sektor keuangan, bank mungkin akan mengurangi jumlah tenaga kerjanya, tapi kehadiran perusahaan teknologi berbasis keuangan (financial technology/fintech) bisa menggantikan.

“Dalam jangka pendek, fintech akan naik, sampai fintech optimal, maka lapangan kerja di bank akan mulai berkurang. Bayangkan, misal ada 200 fintech, masing-masing butuh 30 orang, sudah serap 6.000 pekerja,” terangnya.

Selain akan muncul industri baru yang jadi alternatif untuk sektor yang sama, Rhenald bilang, industri informal menjadi salah satu jalan keluar bagi tergerusnya kesempatan kerja oleh digitalisasi. Misalnya, usaha-usaha yang memanfaatkan layanan antar atau delivery melalui aplikasi online. Syaratnya, sambung Rhenald, para pekerja yang mau menjajal pekerjaan baru ini harus akrab dengan teknologi dan digitalisasi itu.

“Nanti akan banyak restoran yang bisa dibikin di rumah, diantarnya pakai Go-Food (layanan pesan antar dari Go-Jek Indonesia),” pungkasnya.

VIDEO

IKLAN

i-malut.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

 

ARTIKEL TERKAIT

BACA JUGA

DPMD Halteng Gelar Kegiatan Program Singkronisasi APBDes

Weda -- Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Rabu (27/01) Siang tadi mengelar kegiatan Program Sinnkronisasi Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes). Kegiatan tersebut bertempat di kantor DPMD kabupaten Halmahera...

Februari, Vaksinasi Tenaga Kesehatan Kota Ternate Selesai, Lanjut...

Ternate - Imunisasi vaksin C-19 di Kota Ternate khususnya bagi tenaga kesehatan (medis) akan berakhir pada febuari 2021 mendatang. Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Ternate Nurbaiti Rajabessy, ketika dikonfirmasi awak...

Soal Imunisasi Vaksin C-19, Pemda Halbar Masih Dalam...

Halbar -- Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Barat (Halbar) Provinsi Maluku Utara (Malut), masih dalam tahapan proses persiapan untuk penyuntikan Vaksin Sinovak tahap pertama. Kepala Dinas Kesehatan Kab. Halmahera Barat (Halbar)...

PC IKA PMII Halsel Gelar Rapat Kerja Perdana...

Ternate -- Pengurus Cabang Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Halmahera Selatan (PC IKA PMII Halsel) periode 2020-2025, gelar Rapat Kerja (Raker) perdana, dengan tema, "Membangun Sinergitas IKA PMII...

Delapan Desa se-Kecamatan Weda Selatan Halteng Gelar Musrembang

Weda -- Delapan desa se-Kecamatan Weda Selatan Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng), Selasa (26/01) siang tadi menggelar Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) tingkat desa. Delapan desa tersebut yakni Desa Loleo, Aer...

Etihad FC Kemenag Malut Taklukkan Dispora Provinsi FC...

Sofifi -- Friendly Match antara Tim Etihad FC-Kanwil Kemenag Malut vs Dispora Malut FC, Selasa (26/01) sore tadi di Stadion Bukit Durian Sofifi, berakhir dengan skor 4 : 2...

Dinas P2A Kota Ternate Bakal Kawal Kasus Pemerkosaan...

Ternate -- Kasus pemorkasan yang terjadi terhadap 3 korban yang diketahui adalah pelajar salah satu SMU di kota Tidore Kepulauan mendapat perhatian serius dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak...

Menunggak Anggsuran Listrik, Lampu di Pasar Ikan Higienis...

Ternate -- Pihak PLN Kota Ternate, Selasa (26/01) pagi tadi melakukan pemutusan aliran Listrik di Pasar Ikan Higienis, Kelurahan Gamalama, Kota Ternate Tengah. Pasalnya, Pasar Ikan Higienis tersebut menunggak...

PT. IHB gelar Rapat Evaluasi Program PPM Libatkan...

Halut -- Kebijakan PT. NHM beberapa tahun terakhir ini banyak memunculkan polimik dikalangan masyarakat, khususnya masyarakat lingkat tambang, yakni Kec. Kao dan Kec. Malifut Kab. Halmahera Utara. Pasalnya, setiap kebijakan...