TERPOPULER

Bupati Halsel Dianggap Remehkan Surat Edaran Mendagri

Labuha — Bupati Halmahera Selatan (Halsel), Bahrain Kasuba dianggap telah meremehkan edaran Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Jenderal Polisi (Purn.)...

Senin Besok, Polda Malut bersama Tim Penanggulangan...

Ternate -- Tim gabungan penanggulangan pandemic Covid-19 Provinsi Maluku Utara akan melaksanakan penyemprotan masal di Kota Ternate, guna menangkal...

Dalam Waktu Dekat, PD SPSI Akan Bentuk...

Ternate — Pengurus Pimpinan Daerah Federasi Serikat Kimia, Energi dan Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PD FSP KEP SPSI)...

Lanud Leo Wattimena akan Delegasikan Siswa/i Unggulan...

Ternate -  Pendaftaran SMA Pradita Dirgantara Tahun 2021-2022 dibuka pada bulan Februari-Maret 2021 mendatang. Lanud Leo Wattimena pun telah...

Ketua DPD Partai Beringin Karya Kota Ternate...

Ternate -- Pengajuan Pergantian Antar Waktu (PAW) dua orang anggota DPRD Kota Ternate dari Partai Berkarya, berbuntut pengembalian kewenangan...

Usulan PAW Anggota DPRD Kota Ternate dari Partai...

Ternate -- Pengajuan Pergantian Antar Waktu (PAW) terhadap dua orang anggota DPRD Kota Ternate dari partai Berkarya, telah dibahas...

Bupati Halsel Dianggap Remehkan Surat Edaran Mendagri

Labuha — Bupati Halmahera Selatan (Halsel), Bahrain Kasuba dianggap telah meremehkan edaran Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Jenderal Polisi (Purn.)...

Senin Besok, Polda Malut bersama Tim Penanggulangan...

Ternate -- Tim gabungan penanggulangan pandemic Covid-19 Provinsi Maluku Utara akan melaksanakan penyemprotan masal di Kota Ternate, guna menangkal...

Dalam Waktu Dekat, PD SPSI Akan Bentuk...

Ternate — Pengurus Pimpinan Daerah Federasi Serikat Kimia, Energi dan Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PD FSP KEP SPSI)...

Lanud Leo Wattimena akan Delegasikan Siswa/i Unggulan...

Ternate -  Pendaftaran SMA Pradita Dirgantara Tahun 2021-2022 dibuka pada bulan Februari-Maret 2021 mendatang. Lanud Leo Wattimena pun telah...

Ketua DPD Partai Beringin Karya Kota Ternate...

Ternate -- Pengajuan Pergantian Antar Waktu (PAW) dua orang anggota DPRD Kota Ternate dari Partai Berkarya, berbuntut pengembalian kewenangan...

ARTIKEL TERKAIT

Dealektika Antara Agama dan Budaya

(Tinjauan Asimilasi, Akulturasi Islam dan budaya lokal)

|

Oleh : Fajri Jufri
Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Ternate dan Guru MAN Insan Cendekia Halbar

AGAMA merupakan petunjuk ilahi yang diturunkan kepada manusia agar memperoleh kebahagiaan dalam hidup baik di dunia maupun di akhirat. Agama merupakan sumber rujukan bagi penganutnya dalam segala tindak tanduknya. Sebagai sumber nilai, agama menuntut pemeluknya agar selalu mematuhi dan mengerjakan segala perintah dari Allah sebagai ibadah. Agama lahir di tengah-tengah masyarakat yang telah memiliki adat dan budaya yang sudah dijalankan secara turun-tumurun dan sudah di anggap sebagai satu nilai dan norma yang harus dijadikan sebagai etika dalam kehidupan. Kebudayaaan secara fundamental merupakan hal yang sangat esensial dalam kehidupan suatu masyarakat. Setiap masyarakat betapun sederhananya tetap memiliki kebudayaan tersendri sebagai manifestasi hasil karya,cipta,dan rasa mereka. Kebudayaan mengandung nilai,norma,dan pandangan hidup suatu masyarakat.

Menurut Irwan Abdullah, dalam bukunya yang berjudul Konstruksi dan Reproduksi Budaya beliau menjelaskan bahwa kebudayaan itu merupakan blue-print yang telah menjadi kompas dalam perjalanan hidup manusia,ia menjadi pedoman dalam tingkah laku. Pandangan semacam ini mengharuskan untuk merunut keberlanjutan kubadayaan itu pada ekspresi simbolik individu dan kelompok, khususnya dalam meneliti proses pewarisan nilai itu terjadi karena kebudyaan merupakan pola dari pengertian dan makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol dan ditrasmisikan secara historis. Kenyataan ini yang juga turut memberikan kotribusi kepada kebudayaan adalah suatu kompleks yang masyarakat indonesia yang menjadikan bhineka tinggal ika sebagai falsafah hidup bersama di negara ini.

Kebhinekaan masyarakat secara otomatis memiliki bhineka dalam budaya. Setiap masyarakat daerah memiliki kebudayaan tersendiri yang sesuai dengam nilai dan pandangan masyarakat yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat tersebut. Kebudayaan suatu daerah seringkali menjelma dalam bentuk nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi budaya lokal. Buadaya lokal sering kali disebut sebagai kearifan lokal(local genius) yang dapat diartikan secara keseluruhan meliputi dan mungkin malahan dapat dianggap sama dengan apa yang dewasa ini terkenal dengan cultural identy yang diartikan sebagai identitas atau kepribadian budaya suatu bangsa, yang mengakibatkan, bahwa daerah bersangkutan menjadi lebih mampu menyerap dan mengolah pengaruh kebudayaan yang mendatanginya luar wilayah sendiri,sesuai dengan watak dan kebutuahan pribadinya.Interaksi antara agama sosial, dan budaya telah melahirkan keragaman budaya indonesia.

Nur Syam menjelaskan dalam bukunya Mazhab-mazhab Antropologi,agama sebagai sistem kebudayaan merupakan pola bagi tingkah laku yang terdiri dari serangkaian aturan,rencana, dan petunjuk yang digunakan manusia dalam mengatur setiap tindakannya.Demikian juga kebudayaan dapat dimengerti sebagai pengorganisasian pemahaman yang tersimpul dalam simbol-simbol yang berhubungan dengan ekspresi tingkah laku manusia. Karena itu, agama tidak hanya bisa dimengerti sebagai seperangkat nilai diluar manusia, tetapi juga merupakan sistem pengetahuan dan sistem yang dapat melahirkan pemaknaan. Dapat dipahami bahwa antara agama dan kebudayaan mempunyai simbo-simbol dan nilai tersendiri. Agama adalah simbol yang melambangkan nilai ketaatan kepada Allah SWT, sedangkan kebudayaan juga mengandung nilai dan simbol dimana manusia diharapkan bisa hidup di dalamnya. Dalam hal ini, agama memerlukan sistem simbol, yang berarti agama memerlukan kebudyaan agama walaupun keduanya perlu dibedakan. Agama adalah sesuatu yang final, universal, dan abadi. Sedangkan kebudyaan bersifat partikular, relatif, dan tentatif. Agama tanpa kebudayaan hanya dapat berkembang sebagai agama pribadi. Karena itu, kebudayaan agama dapat melahirkan kolektivitas.

Dalam proses dealektika antara agama dan budaya itu telah terjadi proses rekonstruksi identitas,baik dalam hidup beragama maupun berbudaya. Sejalan dengan hal ini, ada proses adaptasi budaya pendatang terhadap budaya setempat yang menyangkut adaptasi nilai dan praktek kehidupan secara umum. Kebudayaan lokal dapat menjadi kekuatan baru yang memperkenalakan nilai-nilai terhadap budaya pendatang. Namun demikian, proses reproduksi kebudayaan lokal, tempat setiap kebudayaan melakukan penegasan keberadaannya sebagai pusat orientasi nilai suatu masyarakat,dapat mempengaruhi mode ekspresi setiap budaya yang lahir. M.Thyib menjelaskan dalam bukunya Sinergi Agama dan Budaya lokal bahwa dalam proses dealektika antara agama dan budaya dapat melahirkan ketegangan kreatif. Ketegangan kreatif bisa dipahami sebagai dinamika kehidupan beragama yang selalu bergerak menuju kepada kemajuan yang lebih baik, sehingga melahirkan agama yang berwawasan budaya dan budaya yang berwawasan agama.

Dalam pandangan Richard Niebuhrt respon yang muncul dalam dealektika agama dan budaya ada lima macam yaitu : 1. Agama mengubah kebudayaan. 2. Agama menyatu dengan kebudayaan. 3. Agama mengatasi kebudayaan. 4. Agama dan kebudayaan bertolak belakang. 5. Agama mentrasformasikan kebudayaan. Kelima bentuk respon tersebut dikaitakan dengan dealektika agama dan budaya dapat dijelaskan sebagai berikut :

Respon pertama merupakan pandangan penganut muslim yang mengatakan satu satunya pedoman hidup manusia adalah islam. Kelompok ini menolak segala bentuk tradisi dan budaya yang dianggap bertentangan dengan ajaran islam walau sekecil apapun. Pandangan ini melahirkan sikap keberagaman yang eksklusif.

Respon kedua adalah pandangan bahwa agama sejalan dengan budaya. Pendapat inilah yang melahirkan sinkretisme agama, yaitu membaurkan pengamalan agama dengan kebudayaan( tradisi). Praktik-praktik keagamaan atau kepercayaan sebelum islam tetap diamalkan dan ditambah dengan nuansa keislaman.

Respon ketiga berpandangan bahwa agama mengatasi kebudayaan. Pendapat ini berdasarkan bahwa islam adalah agama yang bertujuan untuk membimbing manusia agar selamat dunia dan akhirat. Sehubungan dengan itu, islam tidak menolak segala praktek kepercayaan, tradisi, dan budaya yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai islam.

Respon keempat berpandangan bahwa antara agama dan budaya tidak bisa dipertemukan karena medan cakupannya berbeda. Agama menjamin keselamatan manusia,selama manusia mengamalkan agamanya dengan sunguh-sunguh,untuk mencapai keselamatannya ia harus mengamalkan agama dengan cara mensucikan diri melalui pengamalan yang intensif dengan menafikan keterikatannya dengan dunia.

Respon kelima berpandangan bahwa agama memiliki fungsi trasformasi bagi kehidupan manusia. Pandangan ini berpijak dari pemahaman bahwa agama adalah pedoman yang memberi arah bagi aktifitas manusia.Agama adalah motivator untuk mengubah polah hidup menjadi lebih kreaatif.Rospon pandangan terakhir telah dilakukan oleh para penyebar awal Islam di Nusantara dahulu yang telah mentrasformasikan buadaya masyarakat pra islam menjadi islami,minimal tidak bertentangan dengan Islam.

Wallahu,alam bisswab

Iklan Video

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Kepala BPBD Pultab : Waspada Cuaca Buruk diperairan Taliabu Satu Bulan Kedepan

Taliabu -- Diperkirakan, angin kencang disertai hujan lebat bakal melanda beberapa Kecamatan di kabupaten Pulau...

Fokus Peningkatan Jumlah Produksi Kopra Putih, Nakertrans Malut Berencana Menambah Rumah Pengelolahan

Sofifi — Usai eksport 10 ton kopra putih ke Surabaya Jawa Timur beberapa waktu lalu,...

Inspektorat Taliabu Belum Teruskan Hasil Audit ADD dan DD Desa Loseng Ke Polres Sula

Taliabu - Penaganan Kasus Audit ADD dan DD Desa Loseng Kecamatan Taliabu Timur selatan kabupaten...

Dealektika Antara Agama dan Budaya

(Tinjauan Asimilasi, Akulturasi Islam dan budaya lokal)

Oleh : Fajri Jufri
Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Ternate dan Guru MAN Insan Cendekia Halbar

AGAMA merupakan petunjuk ilahi yang diturunkan kepada manusia agar memperoleh kebahagiaan dalam hidup baik di dunia maupun di akhirat. Agama merupakan sumber rujukan bagi penganutnya dalam segala tindak tanduknya. Sebagai sumber nilai, agama menuntut pemeluknya agar selalu mematuhi dan mengerjakan segala perintah dari Allah sebagai ibadah. Agama lahir di tengah-tengah masyarakat yang telah memiliki adat dan budaya yang sudah dijalankan secara turun-tumurun dan sudah di anggap sebagai satu nilai dan norma yang harus dijadikan sebagai etika dalam kehidupan. Kebudayaaan secara fundamental merupakan hal yang sangat esensial dalam kehidupan suatu masyarakat. Setiap masyarakat betapun sederhananya tetap memiliki kebudayaan tersendri sebagai manifestasi hasil karya,cipta,dan rasa mereka. Kebudayaan mengandung nilai,norma,dan pandangan hidup suatu masyarakat.

Menurut Irwan Abdullah, dalam bukunya yang berjudul Konstruksi dan Reproduksi Budaya beliau menjelaskan bahwa kebudayaan itu merupakan blue-print yang telah menjadi kompas dalam perjalanan hidup manusia,ia menjadi pedoman dalam tingkah laku. Pandangan semacam ini mengharuskan untuk merunut keberlanjutan kubadayaan itu pada ekspresi simbolik individu dan kelompok, khususnya dalam meneliti proses pewarisan nilai itu terjadi karena kebudyaan merupakan pola dari pengertian dan makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol dan ditrasmisikan secara historis. Kenyataan ini yang juga turut memberikan kotribusi kepada kebudayaan adalah suatu kompleks yang masyarakat indonesia yang menjadikan bhineka tinggal ika sebagai falsafah hidup bersama di negara ini.

Kebhinekaan masyarakat secara otomatis memiliki bhineka dalam budaya. Setiap masyarakat daerah memiliki kebudayaan tersendiri yang sesuai dengam nilai dan pandangan masyarakat yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat tersebut. Kebudayaan suatu daerah seringkali menjelma dalam bentuk nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi budaya lokal. Buadaya lokal sering kali disebut sebagai kearifan lokal(local genius) yang dapat diartikan secara keseluruhan meliputi dan mungkin malahan dapat dianggap sama dengan apa yang dewasa ini terkenal dengan cultural identy yang diartikan sebagai identitas atau kepribadian budaya suatu bangsa, yang mengakibatkan, bahwa daerah bersangkutan menjadi lebih mampu menyerap dan mengolah pengaruh kebudayaan yang mendatanginya luar wilayah sendiri,sesuai dengan watak dan kebutuahan pribadinya.Interaksi antara agama sosial, dan budaya telah melahirkan keragaman budaya indonesia.

Nur Syam menjelaskan dalam bukunya Mazhab-mazhab Antropologi,agama sebagai sistem kebudayaan merupakan pola bagi tingkah laku yang terdiri dari serangkaian aturan,rencana, dan petunjuk yang digunakan manusia dalam mengatur setiap tindakannya.Demikian juga kebudayaan dapat dimengerti sebagai pengorganisasian pemahaman yang tersimpul dalam simbol-simbol yang berhubungan dengan ekspresi tingkah laku manusia. Karena itu, agama tidak hanya bisa dimengerti sebagai seperangkat nilai diluar manusia, tetapi juga merupakan sistem pengetahuan dan sistem yang dapat melahirkan pemaknaan. Dapat dipahami bahwa antara agama dan kebudayaan mempunyai simbo-simbol dan nilai tersendiri. Agama adalah simbol yang melambangkan nilai ketaatan kepada Allah SWT, sedangkan kebudayaan juga mengandung nilai dan simbol dimana manusia diharapkan bisa hidup di dalamnya. Dalam hal ini, agama memerlukan sistem simbol, yang berarti agama memerlukan kebudyaan agama walaupun keduanya perlu dibedakan. Agama adalah sesuatu yang final, universal, dan abadi. Sedangkan kebudyaan bersifat partikular, relatif, dan tentatif. Agama tanpa kebudayaan hanya dapat berkembang sebagai agama pribadi. Karena itu, kebudayaan agama dapat melahirkan kolektivitas.

Dalam proses dealektika antara agama dan budaya itu telah terjadi proses rekonstruksi identitas,baik dalam hidup beragama maupun berbudaya. Sejalan dengan hal ini, ada proses adaptasi budaya pendatang terhadap budaya setempat yang menyangkut adaptasi nilai dan praktek kehidupan secara umum. Kebudayaan lokal dapat menjadi kekuatan baru yang memperkenalakan nilai-nilai terhadap budaya pendatang. Namun demikian, proses reproduksi kebudayaan lokal, tempat setiap kebudayaan melakukan penegasan keberadaannya sebagai pusat orientasi nilai suatu masyarakat,dapat mempengaruhi mode ekspresi setiap budaya yang lahir. M.Thyib menjelaskan dalam bukunya Sinergi Agama dan Budaya lokal bahwa dalam proses dealektika antara agama dan budaya dapat melahirkan ketegangan kreatif. Ketegangan kreatif bisa dipahami sebagai dinamika kehidupan beragama yang selalu bergerak menuju kepada kemajuan yang lebih baik, sehingga melahirkan agama yang berwawasan budaya dan budaya yang berwawasan agama.

Dalam pandangan Richard Niebuhrt respon yang muncul dalam dealektika agama dan budaya ada lima macam yaitu : 1. Agama mengubah kebudayaan. 2. Agama menyatu dengan kebudayaan. 3. Agama mengatasi kebudayaan. 4. Agama dan kebudayaan bertolak belakang. 5. Agama mentrasformasikan kebudayaan. Kelima bentuk respon tersebut dikaitakan dengan dealektika agama dan budaya dapat dijelaskan sebagai berikut :

Respon pertama merupakan pandangan penganut muslim yang mengatakan satu satunya pedoman hidup manusia adalah islam. Kelompok ini menolak segala bentuk tradisi dan budaya yang dianggap bertentangan dengan ajaran islam walau sekecil apapun. Pandangan ini melahirkan sikap keberagaman yang eksklusif.

Respon kedua adalah pandangan bahwa agama sejalan dengan budaya. Pendapat inilah yang melahirkan sinkretisme agama, yaitu membaurkan pengamalan agama dengan kebudayaan( tradisi). Praktik-praktik keagamaan atau kepercayaan sebelum islam tetap diamalkan dan ditambah dengan nuansa keislaman.

Respon ketiga berpandangan bahwa agama mengatasi kebudayaan. Pendapat ini berdasarkan bahwa islam adalah agama yang bertujuan untuk membimbing manusia agar selamat dunia dan akhirat. Sehubungan dengan itu, islam tidak menolak segala praktek kepercayaan, tradisi, dan budaya yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai islam.

Respon keempat berpandangan bahwa antara agama dan budaya tidak bisa dipertemukan karena medan cakupannya berbeda. Agama menjamin keselamatan manusia,selama manusia mengamalkan agamanya dengan sunguh-sunguh,untuk mencapai keselamatannya ia harus mengamalkan agama dengan cara mensucikan diri melalui pengamalan yang intensif dengan menafikan keterikatannya dengan dunia.

Respon kelima berpandangan bahwa agama memiliki fungsi trasformasi bagi kehidupan manusia. Pandangan ini berpijak dari pemahaman bahwa agama adalah pedoman yang memberi arah bagi aktifitas manusia.Agama adalah motivator untuk mengubah polah hidup menjadi lebih kreaatif.Rospon pandangan terakhir telah dilakukan oleh para penyebar awal Islam di Nusantara dahulu yang telah mentrasformasikan buadaya masyarakat pra islam menjadi islami,minimal tidak bertentangan dengan Islam.

Wallahu,alam bisswab

VIDEO

IKLAN

i-malut.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

 

ARTIKEL TERKAIT

BACA JUGA

Peduli Kemanusiaan, EW-LMND Malut Distribusikan Bantuan di Halut

Ternate -- Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW-LMND) Maluku Utara, distribusikan bantuan terhadap Masyarakat yang terdampak Bencana Alam, di Kabupaten Halmahera Utara (Halut), Provinsi Maluku Utara. Pendistribusian bantuan...

Musyawarah Ke-II IKAPERIK Universitas Khairun Ternate Berlangsung Khidmat

Ternate -- Ikatan Alumni Perikanan dan Ilmu Kelautan (IKAPERIK) Unkhair Ternate Provinsi Maluku Utara gelar musyawarah ke-II, bertempat di Balai Room Gamalama Hotel Sahid Bella, Sabtu (23-01). Pantauan media ini,...

Dr. Muh. Nasir S. Tamalene : IKA PMII...

Ternate -- Universitas Nahdatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) bakal segera didirikan di Provinsi Maluku Utara. Kampus tersebut akan hadir dengan 10 Program Studi (Prodi) dan 3 Fakultas. Ketua Tim Penyusun,...

Hari Ini, LLDIKTI Wilayah XII Lakukan Visitasi Kampus...

Ternate -- Hari Ini Sabtu (23/01), Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XII, lakukan Visitasi Lokasi Perencanaan Pembangunan Kampus Universitas Nahdatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA), serta Dokumen pendukungnya. Kepala Lembaga...

Tahun 2021 ini, PKBM Mario Laha Miliki 81...

Ternate -- Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mario Laha Kota Ternate, pada tahun 2021 ini memiliki 81 siswa peserta didik yang terdaftar di Dapodik Pendidikan Kesetaraan. Ketua PKBM Mario Laha...

Amar Manaf : 2021 Sebagai Tahun Penguatan Kinerja...

Sofifi -- Sebanyak 68 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara menerima SK PCPNS di Aula Kanwil Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara Kantor Wilayah Jl.Km 40...

Keraguan Masyarakat Soal Kemanan Vaksin C-19, Ini Tanggapan...

Sofifi — Vaksin sinovak seakan menjadi momok yang menakutkan bagi warga, meskipun secara resmi pemerintah melalui Badan POM telah mengumumkan jaminan keamanan atas penggunaan vaksin tersebut. Anggota DPRD Provinsi Maluku...

Tahun 2022, DPRD Kota Ternate Akan Maksimalkan Anggaran...

Ternate -- Komisi II DPRD Kota Ternate akan mengusulkan kepada Pemerintah Kota Ternate agar selain Dana Insentif Daerah (DID), para pelaku Usaha Kecil dan Menengah juga diberikan stimulus oleh...

FKPA-MU Gelar Aksi Peduli Kemanusiaan dan Kampanye Lingkungan

Ternate -- Forum Komunikasi Pecinta Alam Maluku Utara (FKPA-MU) gelar Aksi Galang Dana Peduli Kemanusiaan untuk masyarakat Halmahera Utara (Halut) yang tertimpa musibah banjir beberapa waktu lalu. Dalam waktu...